{"id":108,"date":"2019-11-08T04:06:45","date_gmt":"2019-11-08T04:06:45","guid":{"rendered":"http:\/\/linguistik.sps.upi.edu\/?p=108"},"modified":"2024-07-07T04:21:29","modified_gmt":"2024-07-07T04:21:29","slug":"linguistik-forensik-fenomena-berbahasa-berimplikasi-hukum","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/?p=108","title":{"rendered":"Linguistik Forensik: fenomena berbahasa berimplikasi hukum"},"content":{"rendered":"\n<p>Ujaran bahasa, baik lisan ataupun\ntulisan, berbentuk monomoda ataupun multimoda, memiliki potensi berdampak\nhukum. Sebut saja hoaks, dimana wacana yang diisukan tidak sesuai dengan fakta\nyang ada. Ditahap ini, linguistik forensik sebagai salah satu cabang dalam\nlinguistik terapan berperan besar alama menentukan, apakah satu ujaran, atau\nproduk bahasa apapun, memiliki dampak hukum atau tidak.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada dasarnya, hal yang dibahas\ndalam kajian linguistik forensik berkutat pada interaksi kebahasaan, produksi\nbahasa, potensi kriminatitas, dan dampak hukum. Menurut Andika Dutha Bahari,\npakar lingusitik forensik dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) saat\ndiwawancara terkait kasus Ahok, dalam ruang lingkup forensik, linguistik\nberperan pada tiga are, language as legal instrument, language as legal process,\ndan language as legal evidence. Konsiderasi bahasa pada area-area tersebut memperlihatkan\nbahwa ujaran dari seseorang bisa memiliki kekuatan hukum. Dalam ruang lingkup\npersidangan, bahasa dapat menjadi barang bukti, seperti berbentuk dokumen,\nrekaman suara, kesaksian, dan produk bahasa lainnya. Orang yang ditunjuk\nsebagai saksi ahli haruslah orang memliki pemahaman linguistik secara komprehensif\nkarena linguistik forensik akan berkaitan dengan fonetik (khususnya aksutik),\nanalisis wacana, semantik, pragmatik, bahkan psikolinguistik. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Linguistik forensik dapat menjadi\nalat analisis apakah suatu ujaran membawa dampak hukum atau tidak. Ujaran\nkebencian, misalnya, tentu saja membawa dampak hukum karena dapat dikenakan\npasal perbuatan tidak menyenangkan dan pencemaran nama baik. Analisis pragmatik\ndapat digunakan untuk mengetahui maksud dan tujuan dari ujaran tersebut. Pada\nkasus hoaks, penyebar wacana dapat dikenakan tindakan kriminal karean\nmenyebarkan berita bohong. Pada kasus ini, analisis wacana dapat dilakukan untuk\nmembongkar kebohongan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada dasarnya, kebutuhan forensik\ndi bidang bahasa mengharuskan adanya kajian yang menguji bukti linguistik, maka\nlingusitik forensik hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut. Terlebih, era\nkebebasan informasi saat ini mengharuskan pengawan ketat terhadap tersebarnya\nwacana yang ada. Pada tingkat pencegahan, berfikir kritis dapat digunakan\nmasyarakat sebagai filter informasi, tetapi jika sudah sampai pada tahap\npersidangan, lingusitik forensik adalah jawabannya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ujaran bahasa, baik lisan ataupun tulisan, berbentuk monomoda ataupun multimoda, memiliki potensi berdampak hukum. Sebut saja hoaks, dimana wacana yang &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3687,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[99],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/108"}],"collection":[{"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=108"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/108\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3658,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/108\/revisions\/3658"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3687"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=108"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=108"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=108"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}