{"id":1577,"date":"2022-06-30T03:56:51","date_gmt":"2022-06-30T03:56:51","guid":{"rendered":"http:\/\/linguistik.sps.upi.edu\/?p=1577"},"modified":"2022-11-14T03:59:22","modified_gmt":"2022-11-14T03:59:22","slug":"menyoal-haji-mabrur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/?p=1577","title":{"rendered":"Menyoal \u2018Haji Mabrur\u2019"},"content":{"rendered":"\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Istilah \u201chaji mabrur\u201d sudah sangat sering kita dengar dalam komunikasi dakwah maupun pertuturan keseharian masyarakat kita. Terlebih saat umat Islam memasuki musim haji. Namun sayangnya, penempatan istilah \u2018haji mabrur\u2019 setakat ini agaknya masih banyak yang salah kaprah. Istilah \u2018haji mabrur\u2019 merujuk atau dinisbatkan kepada pelaku atau orangnya dan bukan kepada pelaksanaan atau manasik hajinya (tata-cara atau pelaksanaan berhaji).<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Akibat pemahaman yang keliru tersebut,&nbsp; tidak heran jika lazimnya redaksi tahniah atau doa yang diucapan kepada saudara-saudara kita yang akan berangkat atau baru pulang berhaji umumnya seperti ini. Untuk suami&nbsp;<strong>\u201cSemoga Bapak menjadi haji Mabrur\u201d.<\/strong>&nbsp;Sedangkan untuk istrinya&nbsp;<strong>\u201cSemoga Ibu menjadi hajjah mabruroh\u201d.<\/strong>&nbsp;Sangat jarang temukan umat Islam, termasuk dari kalangan para ustadz, &nbsp;yang mengucapkan tahniah atau doa dengan redaksi&nbsp;<strong>\u201cSemoga pelaksanaan atau manasik haji yang telah Bapak\/Ibu lakukan mabrur\u201d<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Apakah makna \u2018Mabrur\u2019? Dalam&nbsp;<em>Lisan al-Arab<\/em>&nbsp;(KBBI-nya Bhs Arab) karya Ibnu Manzur, disebutkan bahwa kata \u2018mabrur\u2019 berasal dari kata&nbsp;<em>\u201cbarra-yaburru-barran\u201d<\/em>&nbsp;atau&nbsp;<em>\u2018al-barra\u2019<\/em>&nbsp;yang berarti \u2018berbuat baik atau patuh\u2019. Kemudian menjadi \u2018<em>al-birrun\u2019<\/em>&nbsp;yang berarti \u2018kebaikan\u2019 (ketaatan,kesalehan) dan juga berarti&nbsp;<em>\u2018maqbul\u2019<\/em>&nbsp;atau \u2018diterima\u2019.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Dalam pengertian pertama, haji mabrur adalah haji yang manasik atau pelaksanaannya dilakukan dengan baik dan benar sesuai tuntunan dan contoh dari Rasulullah SAW. Sedangkan dalam arti yang kedua, mabrur berarti maqbul atau diterima, yang mengandung arti ibadah haji yang dilaksanakan oleh orang tersebut, karena dilakukan sesuai tuntunan dan contoh Rasulullah SAW, diterima oleh Allah SWT. Sedangkan lawannya adalah \u2018al-mardud\u2019, yakni pelaksanaan haji yang ditolak karena menyelisihi tuntunan dan contoh Rasulullah SAW.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Para ulama memaknai kata \u2018mabrur\u2019 kendati redaksionalnya sedikit ada perbedaan, namun substansinya sama. Dalam&nbsp;<em>Fathul Baarii<\/em>, karya Al Hafidh Ibn Hajar al-Asqalani bab Syarah Bukhari-Muslim dijelaskan : \u201cHaji mabrur adalah pelaksanaan berhaji yang maqbul yakni haji yang diterima oleh Allah SWT\u201d.&nbsp; Imam Nawawi dalam&nbsp;<em>Syarah Muslim<\/em>&nbsp;mengatakan: \u201cHaji mabrur itu ialah pelaksanaan ibadah haji yang tidak dikotori oleh dosa, atau haji yang diterima Allah SWT, yang tidak ada riya, tidak ada sum\u2019ah tidak rafats dan tidak fusuq.\u201d Sedangkan Abu Bakar Jabir al Jazaari dalam&nbsp;<em>Minhajul Muslimin<\/em>&nbsp;mengungkapkan bahwa: \u201cHaji mabrur itu ialah pelaksanaan berhaji yang bersih dari segala dosa, penuh dengan amal shaleh dan kebajikan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Dalam tinjauan morfologi bahasa Arab yang juga merupakan bahasa Al-Quran, sesungguhnya antara suatu peribadatan atau pekerjaan dengan para pelakunya dibedakan peristilahannya. Begitu juga capaian parameter yg diharapkan dari peribadatan tersebut.&nbsp; Misalnya, bentuk peribadatannya&nbsp;<em>as-sholat<\/em>, pelakunya dinamai&nbsp;<em>musholin<\/em>, capaian ideal yg diharapkan adalah&nbsp;<em>khoosyi\u2019uun<\/em>&nbsp;(ibadah salat yang khusu\u2019). Peribadatannya&nbsp;<em>az-zakat<\/em>&nbsp;pelakunya dinamai&nbsp;<em>al-muzaki<\/em>, capaian ideal yg diharapkan adalah&nbsp;<em>mukhlisuun<\/em>&nbsp;(ibadah zakat yg ikhlas). Peribadatanya&nbsp;<em>as-shiyam<\/em>, pelakunya dinamakan&nbsp;<em>as-shoimun<\/em>&nbsp;capaian ideal yg diharapkan adalah&nbsp;<em>imanan wakhtisaban<\/em>&nbsp;(puasa yg didasari iman dan perhitungan). Peribadatannya&nbsp;<em>\u2018al-hajj\u2019<\/em>&nbsp;(\u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u062c\u0650\u0651) pelakunya&nbsp;<em>\u2018haajj\u2019&nbsp;<\/em>dan capaian ideal yang diharapkan adalah&nbsp;<em>mabruron<\/em>&nbsp;(manasik atau pelaksanaan prosesi ibadah haji yg diterima oleh Allah SWT).<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Kalau kita perhatikan antara bentuk peribadatan haji dengan pelakunya istilahnya memang tipis perbedaannya. Untuk haji sebagai bentuk peribadatan istilahnya &nbsp;<em>\u2018hajj\u2019<\/em>. Sedangkan untuk pelakunya huruf \u2018ha\u2019 ditulis dan dibaca panjang (<em>haajj<\/em>). Oleh karenanya sangat wajar jika banyak orang yang menganggapnya sama, yakni istilah&nbsp;<em>\u2018al-hajj\u2019<\/em>&nbsp;merujuk pada ritual peribadatan atau manasik ibadah haji dan juga kepada pelakunya atau orangnya.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Argumentasi lainnya bahwasanya istilah \u2018mabrur\u2019 merujuk pada pelaksanaan atau manasik dan bukan pada orangnya dapat kita telusuri dari redaksi doa yang dipanjatkan oleh mereka saat melaksanakan ibadah haji:&nbsp;<em>\u201cAllahumaj\u2019al hajjan mabruron, wa sa\u2019yan masykuron, wa dzanban maghfuron, wa tijarotan lan tabuur\u201d&nbsp;<\/em>(Ya Allah hamba memohon kepadamu pelaksanaan ibadah haji yang mabrur, pengusahaan yang disyukuri, perdosaan yang diampuni, dan perniagaan yang tidak merugi).<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Berdasarkan redaksi doa di atas, sekali lagi jelaslah bahwasanya istilah&nbsp;<em>\u2018hajjan mabruron\u2019<\/em>&nbsp;merujuknya pada pelaksanaan ibadah hajinya, dan bukan pada pelaku atau orangnya. Selain itu, istilah untuk para pelaku peribadatan haji&nbsp;<em>(al-haajj)<\/em>&nbsp;tidak bisa dipilah berdasarkan jenis gendernya, yakni pria (haji) dan wanita (hajah). Begitu pula dengan istilah \u2018mabrur\u2019 untuk pria dan mabruroh untuk wanita. Kedua hal tersebut tidak ada dasar pijakannya alias penisbatan yang salah kaprah.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Lantas\u00a0 ucapan selamat atau tahniah yang bagaimana yang sebaiknya kita sampaikan kepada kepada saudara-saudara kita yang akan atau baru pulang dari berhaji? Sependek pengetahuan penulis, dalam buku-buku fikih haji tidak ada ketentuan pasti ihwal tersebut. Meskipun jika merujuk pada pembahasan di atas disarankan redaksi tahniah dan doanya adalah:\u00a0<strong>\u201cSemoga pelaksanaan\/manasik haji saudaraku\/Bapak\/Ibu mabrur\u201d<\/strong>\u00a0dan bukan \u201cSemoga Bapak\/Ibu menjadi haji dan hajjah yang mabrur\/mabruroh\u201d. Atau bisa juga ucapan yang yang cukup simple yang dicontohkan oleh para ulama salaf, yakni Abu Qibalah kepada Khalid bin Hazza saat beliau pulang berhaji,\u00a0<strong>\u201cBarrol Amal\u201d<\/strong>\u00a0yang artinya\u00a0<strong>\u201cSemoga Allah menjadikan amalan hajimu mabrur\u201d<\/strong>. Selain itu, karena ibadah haji merupakan kegiatan safar, maka kita juga bisa menyampaikan ucapan doa untuk orang-orang yang akan atau pulang dari melakukan safar.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Oleh: Kholid A. Harras<br><\/strong><em><strong>Ketua Al-Irsyad Al-Islamiyyah Kota Bandung<\/strong><\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Laman : <a href=\"https:\/\/kempalan.com\/2022\/06\/19\/menyoal-haji-mabrur\/\">Menyoal \u2018Haji Mabrur\u2019 \u2013 Kempalan.com<\/a> <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Istilah \u201chaji mabrur\u201d sudah sangat sering kita dengar dalam komunikasi dakwah maupun pertuturan keseharian masyarakat kita. Terlebih saat umat Islam &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1577"}],"collection":[{"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1577"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1577\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1579,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1577\/revisions\/1579"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1577"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1577"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1577"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}