{"id":1580,"date":"2022-05-20T02:53:06","date_gmt":"2022-05-20T02:53:06","guid":{"rendered":"http:\/\/linguistik.sps.upi.edu\/?p=1580"},"modified":"2024-07-07T04:22:34","modified_gmt":"2024-07-07T04:22:34","slug":"menyoal-spanduk-lebaran-politisi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/?p=1580","title":{"rendered":"Menyoal Spanduk Lebaran Politisi"},"content":{"rendered":"\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Usai menengok saudara di salah satu kota di Jawa Timur pasca lebaran, pulang kembali ke ibukota saya menggunakan travel. Secara tidak sengaja di dalam kendaraan&nbsp; travel bertemu dengan sejumlah anak muda yang saya nilai memiliki daya kritis. Setelah menempuh perjalanan yg cukup melelahkan, tibalah saatnya kendaraan istirahat di sebuah rest area. Para penumpang pun secara tertib keluar dari kendaraan. Ada yg menuju toilet, restoran atau ngopi-ngopi.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Saya lihat sebagian dari dari anak-anak muda tersebut&nbsp; duduk-duduk dan berbincang melepas penat sambil ngopi di sebuah sudut&nbsp; kedai rest area. Mereka membuat majelis diskusi dadakan. Saya pun iseng ikut nimbrung pada majelis mereka. Namun karena saya sadar diri sebagai orang yang sudah tidak lagi muda lagi, saya mengambil posisi duduk di belakang mereka dan mencoba sebatas sebagai pendengar setia saja sambil menikmati segelas kopi.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Tiga dari lima anak muda tersebut mengaku masih mahasiswa.&nbsp; Sedangkan tiga lainnya sudah bekerja di berbagai perusahaan serta berwirausaha di ibukota dan beberapa kota pinggiran Jakarta. Perbincangan mulai serius setelah Ary, yg merupakan mahasiswa prodi manajemen di sebuah PTN di Depok, melontarkan unek-uneknya.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">\u201cTeman-teman,&nbsp; tidakkah kalian memperhatikan mulai kita memasuki pintu tol dan sepanjang jalan dari Jatim, Jateng hingga Jabar, termasuk di hampir semua sudut rest area ini dipenuhi spanduk-spanduk ucapan selamat Idul Fitri dari para politisi?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">\u201cIya memang. Lantas apa masalahnya Bro?\u201d, ujar Agus yg mengaku sudah setahun bekerja di perusahaan swasta di Depok.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">\u201cSuwer kalau gue benar-benar merasa terganggu. Bahkan lebih jauh lagi, isi kepala gue&nbsp; merasa terteror.. enek dan pingin muntah rasanya!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">\u201cWuih koq terdengarnya serem begitu Bro..Emang bagaimana bisa seperti itu?\u201d tanya Iskandar yg merupakan mahasiswa fakultas Adab&nbsp; UIN Jakarta.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">\u201cBegini di mata gue pada spanduk-spanduk para politikus tersebut ada pemborosan duit yg jumlahnya besar serta sebuah bentuk kedungunan akut!\u201d Nada bicara Ary mulai meninggi.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">\u201cWaduh.. Ary, omongan ente kaya Rocky Gerung aja. Coba-coba jelasin maksudnya\u201d kata Hartatnto wirausahawan muda Pecel Lele yang memiliki beberapa gerai di Bogor.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">\u201cPertama pemborosan. Coba kalian hitung, jika ongkos pembuatan satu spanduk 100 ribu. Kemudian dikali 500 buah maka butuh duit 50 juta. Ditambah ongkos pekerja yg memasang spanduk sebanyak itu misalnya 5 juta. Itu baru spanduk satu orang politisi. Jika ada ribuan politisi di negeri ini yg melakukannya, kalian bisa hitung sendiri berapa banyak jumlah akumulasi uangnya untuk pengadaan spanduk-spanduk tersebut!\u201d ujar Ary.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">\u201cTapi dengan itu telah memberikan dampak positif pada para pengusaha jasa percetakan spanduk berserta karyawanya Bro.. Usaha percetakan spanduk mereka jadi laris-manis. Dan karyawan mereka dapat THR yg baik\u201d kata Maharani, satu-satunya perempuan pada majelis diskusi dadakan di rest area tersebut. Maharani merupakan mahasiswi jurusan ilmu politik pada salah satu PTS terkenal di Jakarta.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">\u201cSaya setuju pandangan Mbak Maharani. Banyaknya politisi yg jor-joran bikin spanduk menurutku membawa berkah buat pengusaha spanduk. Lagi pula sebagai politisi yg ingin terpilih dalam Pileg wajar saja kalau harus keluar duit buat bikin spanduk. Bahwa untuk mencapai hal tersebut harus mengeluarkan fulus, itu ongkos politiknya.\u201d komentar Harbatah, anak muda yg penampilannya paling nyeleneh. Dia mengaku bekerja sebagai operator angkutan barang ekspedisi antar pulau.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">\u201cTapi menurutku para politisi yg hanya bisa memajang spanduk seperti itu&nbsp; adalah politisi norak, pemalas,&nbsp; narsis dan tidak punya konsep\u201d ujar Ary tampak jengkel.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Sejenak suasana hening.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">\u201cKalau hubungan antara spanduk dengan kedungunan akut&nbsp; bagaimana penjelasannya Bro Ary?\u201d tanya Maharani.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">\u201cBegini. &nbsp;Pada era informasi saat ini, dimana akses mendapatkan berita dan rekam jejak seseorang berada pada genggaman tangan publik, cara-cara berpolitik lewat media luar ruang seperti spanduk itu sudah tidak lagi efektif. Ini bukan kata gue, tapi gue baca pada artikel suatu jurnal bereputasi. Hanya maaf nama jurnalnya gue&nbsp; lupa lagi..hehe..<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Pada artikel tersebut dilaporkan, bahwa kampanye politik melalui media spanduk dan sejenisnya, hanya menyumbang elektabilitas politisi yg terlibat dalam kontestasi pileg tahun 2019 lalu hanya&nbsp; 20 persen saja. Sedangkan yg paling besar, adalah rekam jejak kerja-kerja sosial para politikus tersebut di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Nah apa&nbsp; namanya kalau bukan sebuah kedungunan akut saat politisi tersebut rela mengorbankan banyak duit untuk membuat ratusan spanduk, padahal semua itu hanya sedikit saja menyumbang elektabilitas mereka? Oh ya pada artikel tersebut ditemukan fakta bahwa sebanyak 10 persen responden menyatakan gegara banyaknya spanduk para politikus tersebut membuat mereka&nbsp; kehilangan simpati. Artinya spanduk-spanduk tersebut justru menjadi kontraproduktif..\u201d Ary mencoba menjelaskan panjang lebar.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">\u201cTapi saat ini konteks&nbsp; spanduk para politisi tersebut dalam rangka menyambut hari raya Idul Fitri, Bro. Isinya hanya doa ucapan selamat dan permohonan maaf. Tidak ada ajakan memilih para politikus tersebut, karena bukan sedang Pileg\u201d kata Harbatah.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">\u201cMemang tujuan yg ingin mereka capai lewat pemasangan spanduk-spanduk tersebut sebatas mendongkrak popularitas. Harapannya setelah lebih dikenal akan turut meningkatkan elektabilitas saat Pileg nanti. Jadi para politisi tersebut mengambil kesempatan dari adanya berbagai peringatan berbagai hari besar Nasional atau keagamaan.\u201d ujar Ary.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">\u201cWah kalau begitu-begitu amat sih emang layak mereka dijuluki politikus spanduk. Masa kerjanya mejeng terus sepanjang tahun melalui spanduk. Kayaknya menarik tuh kalau diteliti oleh Mbak Maharani sebagai mahasiswi ilmu politik hehe..\u201d gurau Agus sambil mengepulkan asap rokoknya.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">\u201cNah, jadi terinspirasi mencermati dan membahas isi spanduk lebaran para politisi tersebut. Selain wajah sumringah mereka narasi pada spanduk tersebut ada ucapan&nbsp; selamat hari raya Idul Fitri serta &nbsp;permintaan permohonan maaf lahir batin\u201d tiba-tiba Iskandar ikut berkomentar.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">\u201cLantas?\u201d tanya Maharani meminta penjelasan kepada Iskandar.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">\u201cItu kan bisa ditafsirkan para politikus tersebut memposisikan dirinya seolah-olah&nbsp; sudah dikenal khalayak atau publik. Makanya mereka menyampaikan ucapan selamat dan permintaan maaf lewat spanduk tersebut. Padahal faktanya tidak demikian. Ge\u2019er. Betul mereka itu. Haha..\u201d kata Iskandar terbahak.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">\u201cYa..ya.. bener juga pendapat Bro Iskandar ini. Lagi pula lazimnya orang-orang akan saling bermaafan selain sebelumnya&nbsp; sudah saling kenal juga kalau dirasakan memiliki kesalahan. Jadi jangan-jangan para politisi tersebut dalam dirinya sudah merasa bersalah kepada khalayak, sehingga merasa perlu meminta maaf walaupun melalui spanduk.. hehe..\u201d&nbsp; kata Agus.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">\u201cSetuju.. mereka mengaku sebagai para pendosa secara politik haha..\u201d ujar Harbatah terbahak-bahak.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Majelis ghibah anak-anak muda kritis tersebut terpaksa harus dihentikan. Dari pengeras suara terdengar panggilan kepada para penumpang travel agar segera memasuki kendaraan, karena katanya perjalanan menuju ibukota akan dilanjutkan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kholid A. Harras<\/strong><br><em><strong>Dosen UPI, Bandung<\/strong><\/em> <\/p>\n\n\n\n<p>Laman : <a href=\"https:\/\/kempalan.com\/2022\/05\/07\/menyoal-spanduk-lebaran-politisi\/\">Menyoal Spanduk Lebaran Politisi \u2013 Kempalan.com<\/a> <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Usai menengok saudara di salah satu kota di Jawa Timur pasca lebaran, pulang kembali ke ibukota saya menggunakan travel. Secara &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3689,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1580"}],"collection":[{"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1580"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1580\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1581,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1580\/revisions\/1581"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3689"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1580"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1580"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1580"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}