{"id":1621,"date":"2022-04-01T01:08:35","date_gmt":"2022-04-01T01:08:35","guid":{"rendered":"http:\/\/linguistik.sps.upi.edu\/?p=1621"},"modified":"2022-11-25T01:08:49","modified_gmt":"2022-11-25T01:08:49","slug":"citra-metafora-celeng-di-kandang-banteng","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/?p=1621","title":{"rendered":"Citra Metafora \u2018Celeng\u2019 di Kandang Banteng"},"content":{"rendered":"\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Dalam memori masyarakat kita, babi hutan&nbsp;<em>(Sus scrofa Linnaeus)<\/em>,&nbsp; &nbsp;memiliki&nbsp; citra diri atau imaji yang buruk. &nbsp;Hewan yang dalam bahasa Jawa disebut c<em>eleng&nbsp;<\/em>&nbsp;ini saat dewasa berat badannya bisa mencapai 200 kg. Seluruh tubuhnya dipenuhi bulu hitam seperti ijuk; tajam dan kasar. Kedua bola matanya tampak kecil dan menyipit. Pada moncongnya bertengger kokoh dua taring runcing. Itu semua membuat tampilan fisik celeng tampak sangar, mistis dan menyeramkan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\"><em>Celeng<\/em>&nbsp;merupakan pemakan segala: buah-buahan, padi-padian, hingga umbi-umbian. Dengan moncongnya mereka biasa mengendus dan menyosor tanah becek berlumpur. Berburu semut, cacing hingga orong-orong. Saat usahanya gagal,&nbsp; tidak jarang ia akan memakan kotorannya sendiri atau&nbsp; kotoran hewan lain. Akibat &nbsp;prilakunya tersebut&nbsp;<em>celeng<\/em>&nbsp;kerap dipersepsi hewan oportunistik lagi menjijikkan.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\"><em>Celeng<\/em>, &nbsp;yang konon moyang dari spesies babi ternak (<em>sus domesticus<\/em>) saat kondisi terdesak &nbsp;akan menunjukkan &nbsp;prilakunya yang super nekad. &nbsp;Saat diburu atau dikejar predator, mereka langsung berhamburan. Tanpa perduli akan berlari &nbsp;ke segala arah. &nbsp;&nbsp;Karena tidak bisa berbelok, apapun akan diterabas dan diterjangnya. Boleh jadi&nbsp; mengacu pada sikap nekad&nbsp;<em>celeng<\/em>&nbsp;itulah &nbsp;yang melahirkan istilah \u2018membabi-buta\u2019, untuk menggambarkan manusia para pelaku penghalal segala cara.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Dalam cerita mitos mistik-pesugihan,&nbsp;<em>celeng<\/em>&nbsp;juga dipercaya bisa menjadi hewan jelmaan &nbsp;penggasak uang masyarakat.&nbsp; Karena modusnya memepet-mepetkan&nbsp; tubuhnya ke tembok rumah sasaran, mereka dinamai&nbsp;<em>\u2018babi ngepet\u2019<\/em>. Sedangkan di Jawa Timur, karena aksinya menimbulkan suara \u2018kresek-kresek\u2019 disebut&nbsp;<em>\u2018celeng kresek\u2019<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Dalam bahasa Sunda &nbsp;babi hutan&nbsp; disebut&nbsp;<em>\u2018bagong\u2019<\/em>. Pada sejumlah daerah di&nbsp; Jawa Barat dikenal kegiatan&nbsp;<em>\u2018moro bagong\u2019<\/em>&nbsp;dan pertunjukan&nbsp;<em>\u2018ngadu bagong\u2019<\/em>.&nbsp;&nbsp;<em>\u2018Moro bagong\u2019<\/em>&nbsp;adalah aktivitas masal berburu \u2018bagong\u2019 di hutan yang menjadi habitat mereka. Tujuan aksi perburuan yakni untuk membatasi populasi hewan yang dikenal perkembangbiakannya sangat cepat, dan ulahnya sangat merugikan para &nbsp;petani.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Adapun \u2018n<em>gadu bagong\u2019<\/em>\u00a0merupakan pertunjukan memperkelahikan secara brutal, bahkan sampai mati, \u00a0antara \u2018bagong-bagong\u2019 liar dengan anjing-anjing terlatih (umumnya anjing ras jenis Pitbull)\u00a0 yang memiliki naluri menggigit yang sadis. Pertunjukan\u00a0<em>\u2018ngadu bagong\u2019<\/em>\u00a0biasanya dilakukan di sebuah lahan yang dipersiapkan seara khusus. Pertunjukan \u00a0<em>\u2018ngadu bagong\u2019<\/em>\u00a0\u00a0pada sejumlah wilayah Priangan Jabar ini konon sudah berlangsung sejak tahun 1960-an.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Menjelang akhir tahun 1990-an, &nbsp;Djoko Pekik sempat menghebohkan jagat seni rupa kita setelah meluncurkan tiga lukisannya yang dijuduli&nbsp;<strong>\u201cTrilogi Celeng\u201d<\/strong>; &nbsp;yakni&nbsp;&nbsp;<em>\u201cSusu Raja Celeng\u201d<\/em>(1996);&nbsp;<em>\u201cIndonesia Berburu Celeng\u201d<\/em>&nbsp;(1998); dan&nbsp;<em>\u201cTanpa Bunga dan Telegram Duka\u201d<\/em>&nbsp;( 1999). Lukisan&nbsp;<strong>\u201cTrilogi Celeng\u201d<\/strong>&nbsp;yang laku dibandrol 1 milyar tersebut dianggap menggambarkan tahapan pra, saat&nbsp; dan pasca berakhirya kekuasaan rezim otoriter Soeharto. Di mata Djoko Pekik yang notabene mantan aktivis Lekra tersebut, Soeharto dengan rezim Orde Barunya seperti celeng: serakah, rakus, dan otoriter luar biasa.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Gegara menyajikan karikatur seorang polisi sedang memegang kendali tali pengikat tiga&nbsp;<em>\u2018celengan\u2019<\/em>&nbsp;(tempat menyimpan uang berbentuk babi), redaksi&nbsp;<em>Tempo<\/em>&nbsp; sempat diadukan Mabes Polri. Korps baju cokelat meradang dirinya digambarkan seperti itu pada edisi Tempo 28 Juni-4 Juli 2010. Apalagi secara eksplisit dilengkapi teks: \u201cRekening Gendut Perwira Polisi\u201d. Untunglah setelah dimediasi oleh Dewan Pers, keduanya sepakat menempuh jalan perdamaian. Tuntutan hukum dicabut dan Tempo bersedia melayani hak jawab Mabes Polri.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Beberapa pekan lalu \u2018<em>celeng\u2019<\/em>&nbsp;kembali ramai &nbsp;menjadi pembicaraan publik politik tanah air. Ketua DPP sekaligus Ketua DPD PDIP Jateng, Bambang Wuryanto &nbsp;menjuluki sohibnya, Albertus Sumbogo dan kawan-kawan, bukan lagi sebagai bagian \u201cbarisan banteng\u2019, tetapi telah menjadi \u201cbarisan celeng\u201d. Penisbatan tersebut akibat&nbsp; Albertus Sumbogo yang merupakan Wakil Ketua DPC PDIP Kabupaten Purworejo, bersama teman-temannya mendeklarasikan Ganjar Pranowo sebagai Capres Pemilu 2024. Padahal menurut aturan main partai \u2018moncong putih\u2019, penentukan capres atau cawapres merupakan hak prerogatif Ketum,&nbsp; Megawati Soekarnoputri.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Dalam kegiatan komunikasi, penggunaan berbagai bentuk metafora memang akan dapat membantu dalam &nbsp;menggambarkan hal-hal yang dimaksud dengan lebih jelas dan tepat. Sebagaimana dinyatakan Ullman (2007:265), saat seseorang menggunakan metafora dalam suatu kegiatan pertuturan, ia sesungguhnya sedang membandingkan suatu bentuk dengan bentuk yang lain dengan memiliki ciri-ciri dan sifat yang sama, namun dalam wujudnya yang singkat dan padat.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Termasuk dalam hal ini penggunaan metafora hewan (<em>animal metaphors<\/em>). Melalui metafora hewan seseorang berupaya menginformasikan kepada orang lain tentang kesamaan antara sifat dan prilaku manusia dengan sifat dan prilaku hewan. Metafora hewan juga dapat ditujukan untuk menunjukkan kesetaraan antara seseorang dan hewan dimaksud. Penggunaan metafora hewan juga menunjukkan kekayaan dan kompleksitas suatu bahasa.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Dalam bahasa-bahasa Nusantara, termasuk Jawa, terdapat sejumlah idiom berwujud metafora \u00a0yang menggunakan nama binatang. \u00a0Misalnya, orang Jawa yang pemalas, akan digambarkan sederajat dengan sifat dan perilaku ular kadut (<em>ula kadut<\/em>). Sedangkan orang yang sikapnya berubah-ubah digambarkan belut (<em>welut<\/em>). Lantas apa dan bagaimana makna dibalik heboh penggunaan metafora celeng dari kandang banteng saat ini? Dari narasi di atas saya kira pembaca sudah bisa menyimpulkannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh: <strong>Kholid A.Harras<\/strong><br><em><strong>Mahasiswa Program Doktoral Linguistik Pascasarjana UPI<\/strong><\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Laman: <a href=\"https:\/\/kempalan.com\/2021\/10\/24\/citra-metafora-celeng-di-kandang-banteng\/\">Citra Metafora \u2018Celeng\u2019 di Kandang Banteng \u2013 Kempalan.com<\/a> <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam memori masyarakat kita, babi hutan&nbsp;(Sus scrofa Linnaeus),&nbsp; &nbsp;memiliki&nbsp; citra diri atau imaji yang buruk. &nbsp;Hewan yang dalam bahasa Jawa &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1621"}],"collection":[{"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1621"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1621\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1622,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1621\/revisions\/1622"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1621"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1621"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1621"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}