{"id":1625,"date":"2022-04-01T01:14:37","date_gmt":"2022-04-01T01:14:37","guid":{"rendered":"http:\/\/linguistik.sps.upi.edu\/?p=1625"},"modified":"2022-11-25T01:14:48","modified_gmt":"2022-11-25T01:14:48","slug":"perlukah-kita-dengan-new-normal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/?p=1625","title":{"rendered":"Perlukah Kita dengan New Normal?"},"content":{"rendered":"\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\"><strong>Juru <\/strong>bicara penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengakui,\u00a0 penggunaan diksi\u00a0<em>new normal<\/em>\u00a0dalam penanganan pandemi virus corona selama ini\u00a0 tidak tepat. Menurutnya, saat mendengar istilah\u00a0<em>new normal<\/em>\u00a0masyarakat hanya terfokus pada kata\u00a0<em>\u2019normal\u2019-<\/em>nya saja,\u00a0 bukan pada kata\u00a0<em>\u2018new\u2019<\/em>-nya. Akibatnya, terjadi kesalahpahaman terhadap istilah tersebut. Oleh karenanya, pihaknya akan\u00a0 \u00a0mengganti istilah\u00a0\u00a0<em>new normal<\/em>\u00a0dengan\u00a0 \u201cadaptasi kebiasaan baru\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Sejak awal, istilah&nbsp;<em>new normal<\/em>&nbsp; memang menjadi polemik. Ada yang setuju, tetapi banyak &nbsp;yang menentangnya. Kritik terhadap istilah ini pun datang dari banyak pihak. Pakar epidemiologi misalnya, mengkritik keras, khususnya saat istilah tersebut jadi &nbsp;pembenar&nbsp; melakukan relaksasi aktivitas publik di luar rumah di tengah eskalasi penyebaran Covid-19 yang terus melesat. Penggunaan diksi tersebut bukan hanya tidak tepat tetapi juga&nbsp; menyesatkan.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Secara semantik-kognitif, penggunaan istilah&nbsp;&nbsp;<em>new normal<\/em>&nbsp;memang pontensial&nbsp; memicu kesalahpahaman persepsi pada masyarakat.&nbsp; Hal ini antara lain karena kosakata \u2018normal\u2019 diserap ke dalam&nbsp; bahasa Indonesia&nbsp; dari bahasa Belanda:&nbsp;<em>normaal,&nbsp;<\/em>dan berfungsi sebagai &nbsp;kata sifat. Arti kata ini dalam KBBI1) Menurut aturan atau&nbsp; pola yang umum; sesuai dan tidak menyimpang aturan, norma atau kaidah; sesuai keadaan yang biasa; tanpa cacat; tidak ada kelainan; dan 2) Bebas dari gangguan jiwa.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Berdasarkan uraian di tersebut, maka dalam kantong&nbsp; memori semantik-kognitif sebagian besar&nbsp; masyarakat Indonesia, kata \u2018normal\u2019&nbsp; dipahami sebagai \u201csuatu kondisi ideal, tidak menyelisihi norma atau sebagaimana seharusnya\u201d. Selain itu, istilah ini dipersepsi sesuatu yang baik atau positif.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Sebagai istilah,&nbsp;<em>new normal<\/em>&nbsp; menimbulkan persoalan manakala istilah ini diberi muatan makna &nbsp;yang sama sekali baru. Seperti dikemukakan Achmad Yurianto (20\/5\/2020),&nbsp;<em>new normal<\/em>&nbsp; adalah tatacara hidup sehat sesuai protokol kesehatan untuk memutus mata rantai penyebaran&nbsp; pandemi virus corona. Caranya yakni senantasa&nbsp; menggunakan&nbsp; masker saat berada di ruang publik, menjaga jarak fisik, serta menghindari kerumunan.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Istilah baru tersebut &nbsp;tentu saja bertabrakan dengan konsep \u2018normal\u2019 sebagaimana dipahami saat ini oleh khalayak. Masyarakat pun dibuat bingung, karena kondisi yang sejatinya &nbsp;<em>mahiwal<\/em>, harus dipahami sebagai hal yang normal. Situasi yang sesungguhnya dapat mengancam nyawa, harus disikapi sebagai kondisi yang biasa-biasa saja.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Boleh jadi menyadari potensi bisa menimbulkan terjadinya kesalahanpahaman persepsi terhadap frasa&nbsp;<em>new normal<\/em>, sejak awal Pemda Jawa Barat cukup berhati-hati dalam menyerap istilah tersebut. Mereka tidak ikutan latah&nbsp; menyerap&nbsp; frasa&nbsp;<em>new normal<\/em>&nbsp;lewat cara adopsi sehingga menjadi \u2018kenormalan baru\u2019 seperti drekomendasikan Badan Bahasa.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Mereka memilih mengkreasikan istilah&nbsp;<em>new normal<\/em>&nbsp;ini sehingga menjadi AKB&nbsp; (Adaptasi Kebiasaan Baru), karena begitulah sesungguhnya yang ingin dicapai dari istilah tersebut. Jadi kata \u2018normal\u2019 tidak harus diterjemahkan menjadi \u2018normal\u2019 lagi.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Sependek pengetahuan penulis, ijtihad bahasa Pemda Jabar ini agaknya &nbsp;lebih memudahkan masyarakat Jawa Barat dalam memahami pengertian dan konsep&nbsp;<em>new normal<\/em>.&nbsp; Untuk ijtihad perkara ini, apresiasi layak diberikan kepada Kang Emil sebagai gubernur Jabar.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Karena istilah AKB atau Adaptasi Kebiasaan Baru akhirnya dijadikan sebagai istilah resmi oleh pemerintah pusat untuk menggantikan istilah&nbsp;<em>new normal<\/em>&nbsp;yang sejatinya memang tidak normal tersebut. Harus diakui, salah satu dampak penyebaran virus corona ke berbagai belahan dunia, telah mengakibatkan melimpahnya&nbsp; peristilahan baru.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Setiap hari masyarakat seolah dipaksa berkenalan dengan berbagai istilah&nbsp; baru dalam bidang covid-19.&nbsp; Misalnya ada istilah &nbsp;<em>droplet , specimen , suspect,&nbsp; social distancing, physical distancing, lockdown, rapid test, swab test, hand sanitizer, thermo gun,&nbsp; disinfektan\/disinfeksi.&nbsp;<\/em>Sependek pengetahuan penulis, berbagai istilah tersebut masih belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Agar berbagai istilah yang berasal dari bahasa &nbsp;asing bisa dipahami&nbsp; masyarakat tentunya proses penyerapannya harus dengan mempertimbangakan faktor. Antara lain, harus cocok konotasinya, lebih singkat dibandingkan&nbsp; terjemahan Indonesianya, serta lebih mudah dipahami maksudnya.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Modus penyerapannya juga bisa menggunakan bererapa pola: adopsi, adaptasi, penerjemahan, atau kreasi.&nbsp; Hal ini perlu dilakukan agar fungsi-fungsi bahasa seperti alat berinteraksi antarmanusia, alat untuk berfikir, serta &nbsp;sarana dalam menyalurkan arti kepercayaan di masyarakat dapat tercapai.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Ihwal pentingnya memilih kosakata yang tepat dalam &nbsp;proses komunikasi, penting kita memperhatikan pernyataan&nbsp; Heinrich Theodor B\u00f6ll, pemenang Hadiah Nobel Sastra dari Jerman pada 1972: Di balik setiap kata, tersimpan makna \u2018muatan dunia\u2019 (whole world), yang harus dibayangkan para penggunanya.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Setiap kata juga memiliki beban kenangannya tersendiri yang sangat besar. Tidak hanya bagi setiap orang tetapi juga bagi seluruh umat manusia.&nbsp;Saya khawatir, banyak orang yang menggunakan kata-kata tanpa merasakan beban yang terkandung di dalamnya.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Sungguh, sesiapa yang bermain dengan kata-kata sejatinya ia sedang bermain dengan sebuah dunia\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Oleh:\u00a0<strong>Kholid A.Harras<\/strong><br><em>Pengajar pada FPBS Univeritas Pendidikan Indonesia<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Laman : <a href=\"https:\/\/hidayatullah.com\/artikel\/opini\/read\/2020\/08\/13\/190316\/perlukah-kita-dengan-new-normal.html\">Perlukah Kita dengan New Normal? &#8211; Hidayatullah.com<\/a> <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Juru bicara penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengakui,\u00a0 penggunaan diksi\u00a0new normal\u00a0dalam penanganan pandemi virus corona selama ini\u00a0 tidak tepat. Menurutnya, saat &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1625"}],"collection":[{"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1625"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1625\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1626,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1625\/revisions\/1626"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1625"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1625"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1625"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}