{"id":1671,"date":"2022-05-13T03:37:30","date_gmt":"2022-05-13T03:37:30","guid":{"rendered":"http:\/\/linguistik.sps.upi.edu\/?p=1671"},"modified":"2022-11-28T03:37:47","modified_gmt":"2022-11-28T03:37:47","slug":"ketua-komisi-nasional-disabilitas-upi-kampus-ramah-disabilitas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/?p=1671","title":{"rendered":"Ketua Komisi Nasional Disabilitas: UPI Kampus Ramah Disabilitas"},"content":{"rendered":"\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND), Dante Rigmalia, menyebut UPI sebagai kampus ramah difabel. \u201cUPI ini adalah kampus yang sangat setuju, mengimlementasikan kampus yang ramah terhadap penyandang disabiltias,\u201d sebutnya dalam wawancara selepas audiensi bersama Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan UPI, Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A., dengan didampingi sejumlah pimpinan UPI pada Rabu (11\/05\/2022).<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Pernyataan tersebut menyusul UPI sebagai kampus yang terbuka bagi para penyandang disabilitas. Berikut dengan segala akomodasi dan fasilitas yang disiapkan. \u201cDi antaranya sudah menerima banyak penyandang disabilitas di dalamnya, di berbagai program studi,\u201d tambahnya.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Kampus ramah disabilitas merupakan bagian dari pendidikan inklusif. Dante mengungkapkan&nbsp; pentingnya hal tersebut, \u201cKarena dengan pendidikan inklusif berarti kita memegang sebuah filosofi penyelenggaraan pendidikan yang menghormati, menghargai keberagaman setiap mahasiswa,\u201d imbuhnya.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Sejalan dengan pernyataan tersebut, Prof. Didi menegaskan pentingnya pendidikan inklusif untuk diterapkan pada setiap perguruan tinggi. Khususnya di UPI, Prof. Didi mengaku bahwa pendidikan yang inklusif telah diterapkan sejak lama, \u201c<em>Policy&nbsp;<\/em>UPI tidak berubah bahwa UPI adalah kampus inklusif.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Namun demikian, Prof. Didi mengakui bahwa UPI masih memiliki banyak kekurangan. Utamanya terkait fasilitas penunjang yang masih terbatas. \u201cTidak semua bangunan didesain memfasilitasi kawan-kawan disabilitas, karena ada gedung yang lama seperti Partere,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Di sisi lain, UPI berkomitmen untuk terus memberikan fasilitas yang mengakomodasi penyandang disabilitas. Komitmen tersebut didorong pula oleh pemenuhan akreditasi internasional. \u201cItu yang paling menjadi konsen mereka (lembaga akreditasi) itu adalah bagaimana kita memfasilitasi kawan-kawan kita dari disabilitas, pungkasnya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Sebagai kampus inklusif, Direktur Direktorat Pendidikan UPI, Dr. rer. nat. Asep Supriatna, M.Si., menambahkan bahwa UPI menerima mahasiswa pada program studi manapun. \u201cDan kita pun menerima berbagai jalur disabilitas dari jalur apapun. Jika mungkin dari SNMPTN, SBMPTN, Seleksi Mandiri, Prestasi Istimewa, termasuk kerja sama sekalipun,\u201d pungkasnya.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"color:#000000\" class=\"has-text-color\">Audiensi dilakukan dalam rangka kunjungan kerja KND untuk pengembangan kelembagaan serta untuk melihat praktik baik pendidikan inklusif di UPI. Direktur Direktorat Kemahasiswaan, para Wakil Dekan, dan Kepala Biro Sarana dan Prasarana turut hadir secara langsung beserta anggota dan staf KND.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh : Humas UPI<\/p>\n\n\n\n<p>Laman : <a href=\"https:\/\/berita.upi.edu\/ketua-komisi-nasional-disabilitas-upi-kampus-ramah-disabilitas\/\">Ketua Komisi Nasional Disabilitas: UPI Kampus Ramah Disabilitas \u2013 BERITA UPI<\/a> <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND), Dante Rigmalia, menyebut UPI sebagai kampus ramah difabel. \u201cUPI ini adalah kampus yang sangat setuju, &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1672,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1671"}],"collection":[{"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1671"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1671\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1673,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1671\/revisions\/1673"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1672"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1671"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1671"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1671"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}