{"id":3304,"date":"2023-03-07T02:37:00","date_gmt":"2023-03-07T02:37:00","guid":{"rendered":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/?p=3304"},"modified":"2023-12-07T02:38:21","modified_gmt":"2023-12-07T02:38:21","slug":"menilik-isu-kebahasaan-dalam-konflik-pulau-rempang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/?p=3304","title":{"rendered":"Menilik Isu Kebahasaan dalam Konflik Pulau Rempang"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Penulis: Dede Fatinova<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pulau Rempang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau,&nbsp;beberapa pekan ini&nbsp;menjadi buah bibir Masyarakat Indonesia. Hal ini ditengarai karena adanya konflik&nbsp;di pulau Rempang yang melibatkan Pemerintah Indonesia dengan warga setempat.&nbsp;Konflik dipicu oleh adanya relokasi yang dilakukan pemerintah terhadap masyarakat&nbsp;penduduk&nbsp;pulau Rempang dalam rangka pengembangan pulau Rempang melalui pembangunan&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.tributeindonesia.com\/tag\/rempang-eco-city\">Rempang Eco City<\/a>&nbsp;yang didanai oleh investor asing.<\/p>\n\n\n\n<p>Perhatian publik terhadap kasus ini kiranya mulai mencuat pada tanggal 07 September 2023. Kala itu terjadi kisruh antara aparat penegak hukum dan warga setempat yang dipicu oleh adanya&nbsp;tindakan&nbsp;masuk paksa yang dilakukan aparat ke wilayah pulau Rempang untuk mengukur luas lahan. Seketika itu, pemberitaan terkait Pulau Rempang mulai ramai memenuhi&nbsp;laman-laman&nbsp;media massa.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"E120\">Konflik pulau rempang diberitakan sebagai wacana \u201crelokasi\u201d&nbsp;masyarakat pulau Rempang.&nbsp;Menilik pemberitaan peristiwa ini di media, ternyata terdapat&nbsp;dua&nbsp;istilah&nbsp;lain&nbsp;yang&nbsp;mengacu pada kata \u201crelokasi\u201d&nbsp;masyarakat pulau Rempang, yaitu \u201cpenggusuran\u201d&nbsp;dan \u201cpergeseran\u201d.&nbsp;Kata \u201crelokasi\u201d dan \u201cpenggusuran\u201d muncul bersamaan dengan mencuatnya konflik pulau Rempang&nbsp;di publik.&nbsp;Sementara kata \u201cpergeseran\u201d muncul belakangan ketika Menteri&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.tributeindonesia.com\/tag\/investasi\">Investasi<\/a>\/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM),&nbsp;Bahlil Lahadalia&nbsp;pada 28 September 2023 menyatakan bahwa masyarakat Rempang tidak akan direlokasi atau digusur, tapi&nbsp;digeser,&nbsp;di mana&nbsp;tempat tinggal masyarakat pulau Rempang&nbsp;hanya akan dipindahkan&nbsp;ke tempat lain yang masih berlokasi di Rempang.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika kita mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia,&nbsp;kata&nbsp;\u201crelokasi\u201d memiliki makna \u201cpemindahan tempat\u201d, kata \u201cpenggusuran\u201d memiliki makna&nbsp;\u201cmenjadikan (membuat, menyuruh) pindah tempat; menggeser tempat\u201d,&nbsp;dan&nbsp;kata \u201cpergeseran\u201d memiliki makna \u201cmemindahkan; mendorong (menarik dan sebagainya) supaya bergeser (beralih)\u201d.&nbsp;Perbedaan&nbsp;ketiganya&nbsp;adalah bahwa \u201crelokasi\u201d tidak&nbsp;secara eksplisit&nbsp;memiliki unsur paksaan, \u201cpenggusuran\u201d&nbsp;secara eksplisit&nbsp;mengindikasikan adanya&nbsp;unsur paksaan, dan \u201cpergeseran\u201d&nbsp;cukup netral hanya mengindikasikan adanya&nbsp;proses&nbsp;pemindahan tetapi ke tempat yang dekat.<\/p>\n\n\n\n<p>Perbedaan&nbsp;penggunaan kata&nbsp;merelokasi&nbsp;dan&nbsp;menggusur&nbsp;dalam peristiwa pulau&nbsp;Rempang&nbsp;ditemukan&nbsp;pula&nbsp;dalam&nbsp;narasi&nbsp;headline&nbsp;yang digunakan&nbsp;media, misalnya salah satu pemberitaan&nbsp;di&nbsp;liputan6.com&nbsp;tertulis&nbsp;\u201c<a href=\"https:\/\/www.liputan6.com\/news\/read\/5408654\/soal-relokasi-warga-pulau-rempang-bp-batam-291-kk-sudah-daftar\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Soal&nbsp;Relokasi&nbsp;Warga Pulau Rempang,&nbsp;BP Batam: 291&nbsp;KK Sudah Daftar<\/a>\u201d. Sementara&nbsp;dalam&nbsp;pemberitaan di&nbsp;Tempo.co tertulis \u201c6&nbsp;Fakta Pulau Rempang Batam&nbsp;Yang&nbsp;Warganya&nbsp;Tergusur&nbsp;Pabrik Milik Tomy Winata\u201d.&nbsp;Sementara kata \u201cbergeser\u201d baru saja dipaparkan oleh Menteri&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.tributeindonesia.com\/tag\/investasi\">Investasi<\/a>&nbsp;Bahlil Lahadalia di Istana Negara pada tanggal 28 September 2023.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"E235\">Sebenarnya, pada mulanya&nbsp;wacana yang dibangun&nbsp;Pemerintah&nbsp;terkait konflik pulau Rempang ini adalah \u201crelokasi\u201d.&nbsp;Di mana pemerintah menghendaki Masyarakat Pulau Rempang untuk direlokasi karena akan dilakukan Pembangunan&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.tributeindonesia.com\/tag\/rempang-eco-city\">Rempang Eco City<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah&nbsp;berupaya untuk menciptakan fenomena&nbsp;konflik&nbsp;pulau rempang ini sebagai peristiwa positif yaitu dengan menigistilahkanya sebagai&nbsp;\u201crelokasi\u201d. Namun penolakan terus&nbsp;dilakukan oleh Masyarakat, dan pemerintah sempat memberikan himbauan kepada Masyarakat untuk mengosongkan pulau&nbsp;Rempang pada tanggal 28 September 2023, sehingga muncullah wacana \u201cpenggusuran\u201d karena ada indikasi paksaan dari pemerintah terhadap Masyarakat pulau Rempang untuk mengosongkan pulau Rempang sesuai tenggat waktu yang diberikan.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"E254\">Namun, hari ini Menteri Inversitasi Bahlil mengungkapkan bahwa&nbsp;warga Rempang tidak akan direlokasi atau digusur, namun hanya digeser.&nbsp;Lebih lanjut ia mengatakan bahwa relokasi memiliki makna \u201cmemindahkan dari pulau A ke pulau B\u201d. Sebenarnya, terlepas dari apapun penggunaan istilahnya,&nbsp;masalah utamanya adalah&nbsp;warga Rempang tidak menyetujui adanya pemindahan&nbsp;namun pemerintah tetap bersikeras untuk&nbsp;memindahkan warga demi&nbsp;merealisasikan Pembangunan tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa&nbsp;ditinjau dari perspektif&nbsp;kemanusian fenomena&nbsp;Rempang ini adalah penggusuran.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"E275\">Beranjak dari peristilahan relokasi, penggusuran, dan pergesaran,&nbsp;selanjutnya&nbsp;publik&nbsp;pun&nbsp;sempat&nbsp;dibuat bingung dengan viralnya&nbsp;istilah&nbsp;\u201cmemiting\u201d&nbsp;di&nbsp;media sosial.&nbsp;Kejadiannya&nbsp;bermula dari beredarnya video Panglima TNI Laksamana TNI, Yudo Margono yang sedang memberikan instruksi kepada prajuritnya untuk&nbsp;memiting warga pulau Rempang yang menolak adanya relokasi, tuturannya kurang lebih \u201c\u2026masyarakatnya 1000, kita (TNI)nya 1000, 1 miting 1 itu kan selesai\u2026\u201d.&nbsp;Selepas video tersebut beredar dan viral, sontak hal tersebut memantik kemarahan Masyarakat dan menimbulkan&nbsp;perdebatan mengenai makna sebenarnya dari kata \u201cmemiting\u201d yang dimaksud oleh Yudo Margono&nbsp;yang mengindikasikan adanya unsur tindakan kekerasan.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"E302\">Mengetahui kata memiting mulai viral dan menimbulkan penafsiran ganda&nbsp;di masyarakat,&nbsp;pihak TNI&nbsp;pun&nbsp;bergerak cepat.&nbsp;Pusat Penerangan (Puspen) TNI, Laksamana Musa Julius Widjojono&nbsp;segera&nbsp;mengklarifikasi pernyataan yang dikeluarkan oleh&nbsp;Laksamana&nbsp;Yudo&nbsp;yang menginstruksikan untuk memiting warga. Ia&nbsp;kemudian&nbsp;menjelaskan bahwa&nbsp;masyarakat telah keliru memaknai kata \u201cmemiting\u201d karena makna yang dimaksud sebenarnya adalah \u201cmerangkul\u201d. Namun pernyataan yang disampaikan oleh Laksamana Widjojono pun ternyata mengundang pertanyaan besar, yaitu \u201capakah benar kata memiting bisa dimaknai sama&nbsp;dengan&nbsp;kata&nbsp;\u201cmerangkul\u201d?&nbsp;Hal ini kemudian dijawab oleh Prof. Aceng Ruhendi Saifullah, ahli Linguistik Forensik&nbsp;(dikutip dari&nbsp;<a href=\"https:\/\/mediaumat.id\/ahli-linguistik-forensik-piting-tidak-bisa-diartikan-rangkul\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">https:\/\/mediaumat.id\/ahli-linguistik-forensik-piting-tidak-bisa-diartikan-rangkul\/<\/a>) bahwa kata \u201cmemiting\u201d tidak dapat dimaknai sama dengan \u201cmerangkul\u201d.&nbsp;Tak berselang lama, akhirnya&nbsp;pihak TNI&nbsp;pun&nbsp;meminta maaf kepada masyarakat&nbsp;dengan beralasan&nbsp;bahwa&nbsp;kegiatan&nbsp;memiting merupakan hal biasa yang sering ia dan teman-temannya lakukan ketika kecil&nbsp;dan tidak menyangka ini akan menimbulkan makna ganda di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p><em>*Penulis merupakan\u00a0Mahasiswa Pascasarjana Linguistik UPI<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/www.tributeindonesia.com\/opini\/1223035106\/menilik-isu-kebahasaan-dalam-konflik-pulau-rempang\">https:\/\/www.tributeindonesia.com\/opini\/1223035106\/menilik-isu-kebahasaan-dalam-konflik-pulau-rempang<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis: Dede Fatinova Pulau Rempang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau,&nbsp;beberapa pekan ini&nbsp;menjadi buah bibir Masyarakat Indonesia. Hal ini ditengarai karena &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3304"}],"collection":[{"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3304"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3304\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3305,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3304\/revisions\/3305"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3304"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3304"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik-sps.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3304"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}