Dalam memori masyarakat kita, babi hutan (Sus scrofa Linnaeus), memiliki citra diri atau imaji yang buruk. Hewan yang dalam bahasa Jawa disebut celeng ini saat dewasa berat badannya bisa mencapai 200 kg. Seluruh tubuhnya dipenuhi bulu hitam seperti ijuk; tajam dan kasar. Kedua bola matanya tampak kecil dan menyipit. Pada moncongnya bertengger kokoh dua taring runcing. Itu semua membuat tampilan fisik celeng tampak sangar, mistis dan menyeramkan.
Celeng merupakan pemakan segala: buah-buahan, padi-padian, hingga umbi-umbian. Dengan moncongnya mereka biasa mengendus dan menyosor tanah becek berlumpur. Berburu semut, cacing hingga orong-orong. Saat usahanya gagal, tidak jarang ia akan memakan kotorannya sendiri atau kotoran hewan lain. Akibat prilakunya tersebut celeng kerap dipersepsi hewan oportunistik lagi menjijikkan.
Celeng, yang konon moyang dari spesies babi ternak (sus domesticus) saat kondisi terdesak akan menunjukkan prilakunya yang super nekad. Saat diburu atau dikejar predator, mereka langsung berhamburan. Tanpa perduli akan berlari ke segala arah. Karena tidak bisa berbelok, apapun akan diterabas dan diterjangnya. Boleh jadi mengacu pada sikap nekad celeng itulah yang melahirkan istilah ‘membabi-buta’, untuk menggambarkan manusia para pelaku penghalal segala cara.
Dalam cerita mitos mistik-pesugihan, celeng juga dipercaya bisa menjadi hewan jelmaan penggasak uang masyarakat. Karena modusnya memepet-mepetkan tubuhnya ke tembok rumah sasaran, mereka dinamai ‘babi ngepet’. Sedangkan di Jawa Timur, karena aksinya menimbulkan suara ‘kresek-kresek’ disebut ‘celeng kresek’.
Dalam bahasa Sunda babi hutan disebut ‘bagong’. Pada sejumlah daerah di Jawa Barat dikenal kegiatan ‘moro bagong’ dan pertunjukan ‘ngadu bagong’. ‘Moro bagong’ adalah aktivitas masal berburu ‘bagong’ di hutan yang menjadi habitat mereka. Tujuan aksi perburuan yakni untuk membatasi populasi hewan yang dikenal perkembangbiakannya sangat cepat, dan ulahnya sangat merugikan para petani.
Adapun ‘ngadu bagong’ merupakan pertunjukan memperkelahikan secara brutal, bahkan sampai mati, antara ‘bagong-bagong’ liar dengan anjing-anjing terlatih (umumnya anjing ras jenis Pitbull) yang memiliki naluri menggigit yang sadis. Pertunjukan ‘ngadu bagong’ biasanya dilakukan di sebuah lahan yang dipersiapkan seara khusus. Pertunjukan ‘ngadu bagong’ pada sejumlah wilayah Priangan Jabar ini konon sudah berlangsung sejak tahun 1960-an.
Menjelang akhir tahun 1990-an, Djoko Pekik sempat menghebohkan jagat seni rupa kita setelah meluncurkan tiga lukisannya yang dijuduli “Trilogi Celeng”; yakni “Susu Raja Celeng”(1996); “Indonesia Berburu Celeng” (1998); dan “Tanpa Bunga dan Telegram Duka” ( 1999). Lukisan “Trilogi Celeng” yang laku dibandrol 1 milyar tersebut dianggap menggambarkan tahapan pra, saat dan pasca berakhirya kekuasaan rezim otoriter Soeharto. Di mata Djoko Pekik yang notabene mantan aktivis Lekra tersebut, Soeharto dengan rezim Orde Barunya seperti celeng: serakah, rakus, dan otoriter luar biasa.
Gegara menyajikan karikatur seorang polisi sedang memegang kendali tali pengikat tiga ‘celengan’ (tempat menyimpan uang berbentuk babi), redaksi Tempo sempat diadukan Mabes Polri. Korps baju cokelat meradang dirinya digambarkan seperti itu pada edisi Tempo 28 Juni-4 Juli 2010. Apalagi secara eksplisit dilengkapi teks: “Rekening Gendut Perwira Polisi”. Untunglah setelah dimediasi oleh Dewan Pers, keduanya sepakat menempuh jalan perdamaian. Tuntutan hukum dicabut dan Tempo bersedia melayani hak jawab Mabes Polri.
Beberapa pekan lalu ‘celeng’ kembali ramai menjadi pembicaraan publik politik tanah air. Ketua DPP sekaligus Ketua DPD PDIP Jateng, Bambang Wuryanto menjuluki sohibnya, Albertus Sumbogo dan kawan-kawan, bukan lagi sebagai bagian “barisan banteng’, tetapi telah menjadi “barisan celeng”. Penisbatan tersebut akibat Albertus Sumbogo yang merupakan Wakil Ketua DPC PDIP Kabupaten Purworejo, bersama teman-temannya mendeklarasikan Ganjar Pranowo sebagai Capres Pemilu 2024. Padahal menurut aturan main partai ‘moncong putih’, penentukan capres atau cawapres merupakan hak prerogatif Ketum, Megawati Soekarnoputri.
Dalam kegiatan komunikasi, penggunaan berbagai bentuk metafora memang akan dapat membantu dalam menggambarkan hal-hal yang dimaksud dengan lebih jelas dan tepat. Sebagaimana dinyatakan Ullman (2007:265), saat seseorang menggunakan metafora dalam suatu kegiatan pertuturan, ia sesungguhnya sedang membandingkan suatu bentuk dengan bentuk yang lain dengan memiliki ciri-ciri dan sifat yang sama, namun dalam wujudnya yang singkat dan padat.
Termasuk dalam hal ini penggunaan metafora hewan (animal metaphors). Melalui metafora hewan seseorang berupaya menginformasikan kepada orang lain tentang kesamaan antara sifat dan prilaku manusia dengan sifat dan prilaku hewan. Metafora hewan juga dapat ditujukan untuk menunjukkan kesetaraan antara seseorang dan hewan dimaksud. Penggunaan metafora hewan juga menunjukkan kekayaan dan kompleksitas suatu bahasa.
Dalam bahasa-bahasa Nusantara, termasuk Jawa, terdapat sejumlah idiom berwujud metafora yang menggunakan nama binatang. Misalnya, orang Jawa yang pemalas, akan digambarkan sederajat dengan sifat dan perilaku ular kadut (ula kadut). Sedangkan orang yang sikapnya berubah-ubah digambarkan belut (welut). Lantas apa dan bagaimana makna dibalik heboh penggunaan metafora celeng dari kandang banteng saat ini? Dari narasi di atas saya kira pembaca sudah bisa menyimpulkannya.
Oleh: Kholid A.Harras
Mahasiswa Program Doktoral Linguistik Pascasarjana UPI
Laman: Citra Metafora ‘Celeng’ di Kandang Banteng – Kempalan.com

However, the Internet Age has allowed a new frontier of lenders to come into the
scene. Tip: If you are a teenager, it is important to understand that once your name is on a credit card
or debit card, you are beginning to build up a credit history
that will follow you for decades. Unless you are in the top two percent of the wealthiest members of the population, you will probably need a personal loan in order to achieve educational and
personal goals.
The bank chosen have to be ready to incorporate the desired
features within the personal loan. Very often lenders claim better interest rates, when in fact;
the other fees they charge may be higher than that of their competitor.
These loans offer a bigger loan amount in the
range of.
Greetings! Quick question that’s entirely off topic.
Do you know how to make your site mobile friendly? My website
looks weird when viewing from my iphone 4. I’m trying to find a theme or plugin that might be able to fix this issue.
If you have any suggestions, please share. Many thanks!
Whаt’s up too every one, it’s genuinely a pⅼeɑasant for me to go to ѕee thiѕ webѕite, it contain priceless Information.
mу website :: dam prace odd ᴢaraz (niemcy.Polskieogloszenia.pl)