Bijak Berbahasa di Media Sosial

Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari kita. Pesatnya perkembangan teknologi, interaksi melalui platform-platform seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan lainnya semakin mudah dilakukan. Namun, kemudahan ini seringkali diiringi oleh tantangan dalam berkomunikasi, terutama dalam pemilihan kata dan gaya bahasa. Masyarakat Indonesia dikenal sebagai salah satu penduduk paling ramah di dunia. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Microsoft pada tahun 2020 Indonesia menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara atau paling tidak sopan di kawasan tersebut. Hal tersebut tentu memberikan polemik tersendiri terhadap penggunaan bahasa yang dilakukan oleh masyarakat. Maka, dapat diartikan bahwa setiap individu berpotensi melakukan tindak pelanggaran verbal di dunia maya.

Menyuarakan suatu hal di media sosial memerlukan pemahaman yang baik terhadap konteks. Sebelum menulis atau merespons suatu postingan, penting untuk memahami isi pesan, konteks serta kebenarannya. Mengabaikan konteks dapat mengakibatkan salah pengertian, konflik, atau bahkan kebingungan di antara pengguna media sosial. Atau memberikan asumsi yang akan menjadi multitafsir dan bias. Selain itu, penggunaan kata-kata sangat memengaruhi orang lain. Adanya keterbatasan ruang berpendapat membuat kita harus pandai-pandai memilih diksi dan tidak menggunakan kosakata yang cenderung dapat merendahkan atau menyinggung.

Dampak dari pemilihan kata yang kurang bijak justru akan menimbulkan konflik dengan orang lain. Kita mungkin mengenal istilah „Buzzer Rp“ atau „Netijen yang maha benar“ adalah sebagian frasa yang berkembang dari adanya konflik yang terjadi di ruang maya, karena orang-orang menjadikan media sosial sebagai tempat berkumpulnya pendapat dan sudut pandang dari beragam orang dengan tingkat pendidikan, status sosial, asal daerah dan faktor sosial lain yang menyuarakan hal yang sama. Namun, kehadiran ruang diskusi tersebut justru memancing orang-orang untuk beropini secara bebas tanpa mengindahkan bobot dari opini yang disampaikan. Maka sering terjadi „perang“ opini yang tidak perlu kita lihat berlalu-lalang pada setiap utas ruang publik tersebut.

Penting untuk menghargai privasi orang lain dengan tidak mengungkap informasi pribadi orang lain tanpa seizin mereka. Tentu kita sering melihat berbagai kasus yang masih menjadi tanda-tanya kebenarannya sudah „digoreng“ orang warganet. Kondisi ini diperparah dengan berjamurnya akun-akun palsu untuk memperkeruh suasana dengan menyinggung SARA bahkan ungkapan verbal terhadap kondisi fisik. Sehingga, masyarakat tidak bisa membedakan fakta dan opini yang ada. Kemudian, setelah ramai-ramai „digoreng“ tersebut bermunculan video-video singkat tentang klarifikasi akan hal yang terjadi.

Penting bagi kita untuk sentiasa mengontrol emosi, karena emosi dapat memengaruhi cara kita berkomunikasi. Jika sedang emosional, berikan diri waktu untuk tenang sebelum menanggapi suatu situasi di media sosial. Hindari menulis dalam keadaan marah atau kesal, karena hal tersebut dapat menyulut konflik yang tidak perlu. Media sosial menciptakan jejak digital yang bertahan lama. Sebelum menulis atau membagikan sesuatu, pertimbangkan dampak jangka panjang dari apa yang akan Anda sampaikan. Hindari tindakan impulsif yang dapat merugikan reputasi diri sendiri maupun orang lain. Jangan sampai dikemudian hari hal itu yang menjadi bumerang terhadap Anda.

Berbahasa dengan di media sosial dengan bijak merupakan kunci untuk membangun komunikasi yang positif dan harmonis. Dengan memahami sensitivitas terhadap konteks, memilih kata-kata dengan bijak, menghindari konflik yang tidak perlu, verifikasi terhadap kebenaran informasi, menghormati privasi, mengontrol emosi, dan berpikir jangka panjang, kita dapat berkontribusi positif dalam lingkungan virtual dan memberikan manfaat bagi semua pengguna.

(Penulis: Ikmal Trianto)